//
you're reading...
Analisis

Susahnya mengukur angka Golput

Berapa angka golput pada Pemilu 2009? Pertanyaan ini tak mudah dijawab. Ada beberapa persoalan yang menyebabkan angka golput sulit ditetapkan secara pasti. Kesulitan pertama bermuasal dari perbedaan persepsi tentang apa itu golput. Ada yang berpendapat golput adalah pemilih yang tidak menggunakan hak suaranya, entah karena persoalan teknis-administratif ataupun lantaran dorongan ideologis (pilihan sadar untuk tidak memilih). Namun ada juga yang berpandangan, golput haruslah benar-benar berlandaskan pilihan sadar. Pemilih yang golput adalah mereka yang dengan sepenuh kesadaran diri memilih untuk tidak memilih karena alasan yang dia yakini kebenarannya (ideologis).

Misalnya, pemilih itu percaya bahwa tidak satu pun parpol yang cukup pantas untuk dipilih karena kredibilitas dan track recordnya meragukan. Atau pemilih itu memang sejak dalam pikirannya tidak percaya dengan sistem demokrasi elektoral yang diterapkan di Indonesia dan mengimajikan sebuah sistem politik lain, khilafah Islamiyah umpamanya.

Jika kita tengok ke belakang, pengertian kedua ini lebih mendekati makna golput ketika pertama kali dipopulerkan pada tahun 70-an. Pada waktu itu, Arif Budiman menyerukan golput karena ketidakpuasan terhadap pemilu Orde Baru yang dinilai manipulatif dan hanya melanggengkan status quo.

Golput dan Angka

Baik dari pengertian pertama maupun kedua, sulit diketahui secara pasti berapa angka golput. Hal ini karena beberapa persoalan yang akan diuraikan di bawah ini.

Seperti diketahui, jumlah pemilih dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT) adalah 171.265.442. Dari jumlah itu, tercatat oleh KPU sebanyak 121.588.366 pemilih datang ke TPS menggunakan hak suaranya. Dari 12,5 juta yang menggunakan hak suaranya, ada 17.488.581 suara yang tidak sah karena persoalan teknis. Sisanya, 104.099.785 adalah suara sah nasional.

Kita mulai dengan pengertian golput kedua, yakni pemilih yang dengan penuh kesadaran tidak menggunakan hak suaranya. Jika kita bandingkan dengan angka DPT, pemilih yang tidak menggunakan hak suaranya adalah sebanyak 49.677.076. Secara sembrono banyak yang menyebut angka itu sebagai angka golput. Tapi nanti dulu, urusan tidak semudah itu. Pertama, tidak semua pemilih yang berjumlah 49,6 juta itu dengan sadar merelakan hak pilihnya terbuang. Ada sebagian dari mereka yang tidak memilih karena persoalan teknis-administratif seperti telat datang ke TPS, tidak dapat undangan, dan lain-lain, padahal nama mereka ada di DPT. Artinya, tidak semua memilih golput (dalam pengertian ideologis).

Kedua, dari 17,4 juta pemilih yang suaranya tidak sah, bisa jadi ada di antaranya yang dengan sengaja membuat suaranya tidak sah. Misalnya dengan menulisi surat suara dengan tulisan-tulisan jorok seperti terjadi di Situ Gintung. Artinya, dalam angka suara tidak sah sangat mungkin terdapat pula angka golput (ideologis).

Jika kita tilik dari pengertian pertama, yakni semua pemilih yang tidak menggunakan hak pilihnya apapun alasannya, angka golput tetap sulit diketahui secara pasti. Pertama, kita harus ingat bahwa menjelang pemungutan suara 9 April lalu, KPU beserta jajaran di bawahnya melakukan penyisiran DPT. Penyisiran ini dimaksudkan untuk menghindari adanya pemilih fiktif atau pemilih yang tidak memiliki hak pilih menggunakan suaranya. Artinya, dari angka 49,6 juta pemilih yang tak datang ke TPS, bisa jadi ada di antaranya yang merupakan pemilih fiktif yang tersingkir berkat adanya penyisiran DPT. Dengan demikian tidak bisa dikatakan bahwa 49,6 juta itu merupakan angka golput.

Kedua, kita juga tidak boleh melupakan betapa carut-marutnya DPT yang disusun KPU. Ada sekian banyak pemilih yang memiliki hak pilih, tetapi tidak masuk dalam DPT. Jika kita menggunakan basis hak pilih untuk menentukan golput, maka bisa dipastikan ada sekian banyak pemilih yang golput karena tak terdaftar oleh KPU. Golput model terakhir ini lebih susah lagi dipastikan angkanya karena Daftar Penduduk Potensial Pemilih (DP4) dari Depdagri juga bermasalah.

Dengan demikian, baik dipandang dari pengertian pertama maupun kedua, sangat sulit diketahui secara pasti berapa angka golput. Yang bisa dilakukan barangkali hanyalah perkiraan alias prediksi. Shohib Masykur, Almunus Fisipol UGM, kini wartawan detikcom

About Mardoto

A Lecturer of IDAFA.

Discussion

Comments are closed.

%d bloggers like this: