//
you're reading...
News

Meski penurunan tak separah Januari-Februari ; Kinerja ekspor 2009 masih fluktuatif

Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu memperkirakan kinerja ekspor selama 2009 masih akan berfluktuasi, meski penurunannya tidak akan separah Januari dan Februari kemarin. Diharapkan kenaikan ekspor pada Maret kemarin merupakan indikasi bahwa penurunan ekspor sudah mulai berhenti dan akan berganti menjadi peningkatan kembali. “Kami berharap kenaikan ekspor Maret adalah tanda-tanda bahwa kita sudah berhenti turun dan mulai meningkat lagi. Mungkin nanti masih akan naik-turun, tapi tidak turun terus,” ujar Mendag di Jakarta kemarin.

Dijelaskan, peningkatan kinerja ekspor non-migas selama Maret 2009 mencapai 7,27 miliar dolar AS atau mengalami kenaikan 20,08% dibanding Februari. Ini merupakan pertanda Indonesia telah mengakhiri masa terburuk akibat krisis global Oktober 2008-Januari 2009. “Kontraksi ekspor bulan per bulannya cukup besar ketika itu, pada Februari ekspor minus 1% dan Maret ini naik,” ujarnya. Menurutnya, fluktuasi kinerja ekspor selama 2009 masih terjadi karena volume perdagangan dunia tahun ini dipastikan mengalami kontraksi. Sementara volume total ekspor Indonesia selama Maret mengalami peningkatan 52% yang terdiri 18,7% ekspor migas dan non-migasnya naik 60%.

Secara kumulatif, ekspor Januari-Maret juga dinilai membaik meski masih menurun, mencapai 22,90 miliar dolar AS atau turun 32,13% dibanding periode yang sama 2008. Sedang ekspor non-migas Indonesia mencapai 19,58 miliar dolar AS atau mengalami turun 25,69%. “Pada Januari-Februari penurunannya sampai 38%,” tuturnya. Kinerja ekspor Maret, terbantu harga komoditas CPO dan karet yang mulai naik. “Pada Desember lalu kan harga CPO hanya berkisar pada 400 dolar AS per ton, tapi sekarang sudah sekitar 700 dolar AS per ton, juga cukup baik harganya saat ini,” tambahnya.

Mendag menilai, tumbuhnya kinerja impor terutama barang modal (mesin) serta bahan baku dan penolong menunjukkan bahwa investasi masih ada. Sebelumnya, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Rusman Heriawan seperti dikutip Antara melaporkan, nilai impor selama Maret totalnya mencapai 6,53 miliar dolar AS atau naik 9,94% dibanding Februari. Sedang ekspornya sebesar 8,54 miliar dolar AS atau naik 20,64% dibanding Februari. Nilai impor non-migas Maret mencapai 5,61 miliar dolar AS atau meningkat 12,81% dibanding Februari 2009. Secara kumulatif, nilai impor selama Januari-Maret 2009 mencapai 19,07 miliar dolar AS atau turun 35,85% dibanding periode yang sama tahun 2008.

Penurunan impor migas 54,78% hingga menjadi 3,16 miliar dolar AS. Sedang impor non-migas selama tiga bulan pertama 2009 mencapai 15,91 miliar dolar AS atau turun 30,03% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Berdasarkan golongan penggunaan barang, impor barang konsumsi sebesar 1,3 miliar dolar AS atau turun 33,08%, impor bahan baku/penolong mencapai 13,5 miliar dolar AS atau turun 42,25% dan impor barang modal 4,3 miliar dolar AS atau turun 3,29%. “Ada banyak faktor yang mempengaruhi penurunan impor barang konsumsi termasuk menurunnya permintaan di dalam negeri dan kurs mata uang kita yang melemah. Itu artinya harga impor lebih mahal, jadi secara alamiah konsumen mencari barang subtitusi dari dalam negeri,” jelasnya. SumberBerita

About Mardoto

A Lecturer of IDAFA.

Discussion

Comments are closed.

%d bloggers like this: