//
you're reading...
Analisis

Politik narsis dan Golput

Keputusan Mahkamah Konstitusi tentang sistem suara terbanyak bagi para caleg sungguh merisaukan, tapi sekaligus melegakan. Keputusan yang dibuat setelah adanya nomor urut caleg tersebut akan membawa banyak konsekuensi, baik di masa pra maupun pasca pemilihan. Di sisi lain, masyarakat menjadi lega, tidak ada lagi istilah memilih kucing dalam karung. Muncul penghargaan sejati suara pemilih atau vox populi vox dei (suara rakyat adalah suara Tuhan).

Banyak politisi yang menjadi caleg dalam pemilu 9 April mendatang terus terang saja menjadi dag dig dug alias jantungnya berdebar keras. Berada di urutan atas menjadi tidak memiliki makna tanpa mampu mendulang suara signifikan. Sedangkan yang berada di nomor sepatu merasa adem ayem, karena mengandalkan popularitas sejati. Tentunya mereka yang sangat risau adalah para politisi yang selama ini lebih mengandalkan dukungan atas, tapi tidak memiliki dukungan akar rumput, grass root. Mereka mengira bahwa dengan dikantonginya dukungan atasan yang lalu menempatkan dirinya di nomor urut atas, adalah jaminan suatu keberhasilan untuk bisa nangkring di kursi wakil rakyat.

Kini mereka harus berjibaku habis-habisan jika benar-benar ingin terpilih. Untuk dapat dicentang oleh rakyat, setidaknya para caleg harus dikenal oleh para pemilihnya. Lebih baik lagi kalau dikenal sebagai politisi, yang telah memperjuangkan nasib rakyat selama ini. Sayang sekali, sebagian mereka yang mengejar nomor urut atas ternyata ditempatkan di daerah pemilihan (dapil) yang tidak dikenalnya.

Akibatnya, sudah dapat dilihat dengan jelas sejak awal tahun ini. Baik di desa maupun kota, ibukota kecamatan ataupun ibukota negara, penuh sesak dijelali spanduk dan baliho ”perkenalan” para caleg. Ratusan foto para calon pemimpin itu ada yang dibuat dengan biaya ratusan juta rupiah, ada juga dengan foto copian. Ada yang dipajang di jalan protokol, ada juga yang dipancang di atas pepohonan. Seolah satu dengan yang lain berdesakan sembari mengatakan, ”Ini lho, aku yang lebih layak jadi pemimpin dibanding yang lain.”

Untuk lebih memperkuat citra, berbagai foto mejeng tersebut dilatarbelakangi gambar pemimpin partainya. Tentu ini bermaksud untuk menyampaikan pesan bahwa ”Saya mendapat blessing dari boss besar”. Strategi seperti itu laku bak kacang goreng dan diikuti oleh banyak caleg, namun dalam batas-batas tertentu malah menunjukkan pula rasa tidak percaya dirinya. Yang menjadi cantolan bukan dirinya, tetapi pemimpin partainya.

Tahapan kedua setelah perkenalan, mau tidak mau sebagian caleg juga melakukan turba, turun ke bawah. Menemui dan berkomunikasi langsung dengan rakyat calon pemilih. Ada yang memberikan bantuan mobil ambulan hingga mengajari bagaimana menyanggul yang aduhai. Ini semua adalah cara membangun citra bahwa mereka sangat peduli terhadap kepentingan para konstituen. Harapannya secara pasti adalah para pemilih akan mencentang dirinya.

Repotnya, dua lapis kegiatan tersebut ramai-ramai dilakukan oleh banyak caleg. Ingat, to win the heart of the people perlu bukti dalam kurun waktu tertentu, bukan dilakukan secara singkat, pragmatis dan penuh kompetisi. Akibatnya, rakyatpun sampai saat ini tetap bingung siapa yang akan mereka pilih. Inilah yang kemudian ditengarai sebagai salah satu penyebab membumbungnya jumlah golput dalam pemilu mendatang.

Menurut pengamat politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Hermawan Sulistyo, semua sepak terjang pembangunan citra itu bisa terjadi karena para caleg melakukannya hanya untuk dirinya sendiri. Ia menyebutnya sebagai gejala politik narsis, karena ternyata menurut riset yang ada sampai saat ini 80% pemilih tidak pernah tahu siapa calonnya.

Pada akhirnya, para politisi tersebut bak para pemuas diri. Mereka bikin spanduk sendiri, dilihat sendiri, difoto sendiri dan jangan-jangan yang memilih hanya dirinya sendiri. Sikap memuja diri sendiri, kagum terhadap dirinya dan merasa besar sendiri inilah yang sering disebut dengan narsisme, atau dalam bahasa gaul disebut narsis.

Jujur saja, dengan keputusan Mahkamah Konstitusi tersebut, maka para caleg tidak bisa kipas-kipas menunggu centangan rakyat. Mereka terpaksa membuka kantong, dompet, tabungan hingga menjual sawahnya untuk publikasi yang tidak murah. Hitung punya hitung, secara kasar pastilah dapat dikalkulasi bahwa politisi yang akan maju dalam pemilu mendatang ini harus merogoh kantong setidaknya dua kali lipat dibanding para caleg para periode-periode sebelumnya.

Urusan merogoh kantong sampai ujung dalam bukanlah perkara enteng dan simpel. Beberapa politisi kita masih ada yang melakukan kalkulasi politik campur prinsip ekonomi. Mengeluarkan sedikit tapi meraup banyak. Atau mengeluarkan banyak tapi mendapat jauh lebih banyak. Inilah paradigma yang harus diluruskan dan menjadi concern masyarakat umum. Harus terus diupayakan prinsip ”Jangan ada dusta di antara kita”.

Masyarakat juga menjadi tambah bingung mengenai siapa yang harus dipilihnya dalam pemilu 9 April mendatang. Pembangunan image para caleg yang tiba-tiba dan bersifat massif tersebut tidak bisa serta merta mengantarkan rakyat pada pilihannya. Secara teoritis, para pemilih saat ini justru merasa terganggu dengan aneka gambar di seluruh tikungan kota dan desa serta menganggapnya sebagai publikasi murahan. Ini tentunya sangat terkait dengan pendapat bahwa kebaikan itu muncul karena adanya karya nyata, bukan akibat dari sekedar publikasi.

Dalam kondisi yang demikian, maka kemungkinan rakyat kita nanti akan melakukan pilihan dengan beberapa alternatif. Pertama, mereka akan memilih bukan karena partai, tapi lebih dari popularitas caleg (yang telah terbukti selama ini memperjuangkan rakyat). Ini akan bisa membawa perubahan konstelasi perolehan partai di parlemen dibanding pemilu sebelumnya. Kedua, bila tidak ada pilihan maka para politisi selebriti akan menjadi pilihan berikutnya sehingga partai yang banyak mengusung selebriti bisa jadi akan mendulang banyak suara. Terakhir, seperti yang tidak kita kehendaki bersama, maka akan ada tingkat golput yang cukup signifikan.

Sebenarnya saya memiliki tips yang relatif baik untuk pemilih. Jika memang tidak mengetahui siapa yang terbaik untuk menjadi caleg Anda, maka pilihlah caleg yang paling sedikit publikasi dari partai yang Anda yakini dapat mengantarkan kesejahteraan masyarakat. Bisa jadi itulah caleg yang berhati ikhlas. M. Aji Surya, WNI tinggal di Moskow, Rusia

About Mardoto

A Lecturer of IDAFA.

Discussion

Comments are closed.

%d bloggers like this: