//
you're reading...
News

Kas negara surplus Rp 127,8 Triliun

Sejumlah indikator ekonomi pada kuartal pertama 2009 ternyata tidak seburuk yang diduga. Posisi kas negara pada hari ini tercatat mengalami surplus sebesar Rp 127,8 triliun dan US$ 8,8 miliar. Demikian disampaikan Menko Perekonomian dan Menkeu Sri Mulyani usai rapat terbatas di kantor Presiden, Jakarta, Rabu (6/5/2009).

Beberapa indikator ekonomi yang dilaporkan adalah sebagai berikut:

  • Posisi kas negara surplus Rp 127,8 triliun surplus dengan valuta asing US$ 8,8 miliar.
  • IHSG meningkat mendekati 20%
  • Rupiah berada di Rp 10.500/US$
  • Harga minyak meningkat jadi US$ 53,8 per barel
  • Indeks Surat Utang Negara (SUN) durasi 10 tahun di bawah 12% (11,75%)

Indikator ini menggambarkan sentimen yang sangat kuat dan konfiden konsumen secara umum menguat pada bulan terakhir. Ini juga didukung deflasi April sebesar 0,31%, jadi tingkat inflasi bahkan menurun,” katanya. Konstribusi utama deflasi pada April 2009 disumbang terutama harga beras, daging ayam dan cabe. Inflasi secara keseluruhan year on year adalah 7,31% dan Januari-April hanya 0,05%. “Jika tren ini terus dijaga maka inflasi tahunan sangat mungkin dicapai 5%. Ini positif,” katanya.

Untuk indikator perdagangan dari sektor ritel, terutama makanan, pakaian dan textil semua mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Bahkan sektor otomotif seperti motor sudah kembali bangkit. “Ini mengambarkan indikator awal kegiatan produksi sudah mulai naik,” tambahnya.

Terkait kegiatan ekspor impor, Sri Mulyani menyatakan, meskipun terjadi penurunan namun masih dalam batas perkiraan pemerintah. Menurut catatan BPS, ekspor selama Januari hingga Maret 2009 tercatat sebesar US$ 22,9 miliar atau turun 32,12% dari triwulan I-2008. Sementara impor pada triwulan I-2009 tercatat sebesar US$ 19,07 miliar atau turun 35,85 % dari triwulan I-2008. “Jika sampai Maret masih ada tren positif, maka sesuai yang disampaikan oleh Mendag pada akhir tahun volume ekspor hanya menurun 5-10 persen. Masih ada dalam range yang diperkirakan oleh pemerintah,” katanya.

Stimulus

Sri Mulyani pada kesempatan yang sama juga menjelaskan sebagian stimulus fiskal yang sudah mendapat persetujuan DPR. Hanya ada satu alokasi stimulus yang masih ‘nyangkut’, yaitu stimulus Departemen Pertanian senilai Rp 650 miliar. “Tetapi Menteri Pertanian menyampaikan sudah ada kesepahaman dengan Komisi IV DPR. Program stimulus ini diatur dalam pasal 23 UU APBN oleh karena itu pelaksanaanya harus segera dilaksanakan untuk mengurangi krisis global. Untuk departemen lainnya mulai proses pelaksanaan anggaran dan diharapkan berjalan pada Mei ini,” katanya.

Stimulus yang dialokasikan pemerintah terutama untuk mendorong proyek-proyek infrastruktur. Namun pencairannya baru bisa dilakukan jika proyeknya sudah berjalan. “Sebetulnya bukan pada masalah cair atau tidak, tapi programnya sudah jalan atau tidak. Kalau pencairan kan tergantung dari apakah mereka sudah jalan lalu disbursement sesuai dengan kemajuan fisik. Jangan lupa kalau infrastruktur itu sebagian besar untuk fisik,” jelasnya.

Ia mengumpamakan stimulus Departemen PU senilai Rp 6 triliun yang semuanya sudah mulai jalan dengan Pemda-nya masing-masing. Mereka sudah mulai melakukan aktivitas untuk persiapan pelaksanaan proyeknya. Selain itu stimulus Departemen Perhubungan dan Departemen Kelautan itu juga sudah mulai dijalankan pada level satuan kerja. Selain itu pemerintah juga menyampaikan bahwa penerimaan pajak diperkirakan akan menurun. “Untuk pajak sudah kami sampaikan ke dewan, trend penerimaan pajak yang menurun. Penurunan dari penerimaan pajak memang sudah disampaikan pada dewan proyeksinya ada yang mungkin lebih rendah dari yang kita proyeksikan,” katanya. Sri Mulyani juga melaporkan bantuan dari Jepang sebesar US$ 500 juta yang masuk lewat Bank Ekspor Indonesia. Bank Ekspor Indonesia sendiri saat ini tengah dipersiapkan agar bisa memaksimalkan bantuan tersebut. SumberBerita

About Mardoto

A Lecturer of IDAFA.

Discussion

Comments are closed.

%d bloggers like this: