//
you're reading...
Idea

Membangun budaya berkebangsaan

Dari tinjauan semantik, maksud dari pendidikan membangun budaya dan kebangsaan merupakan kesatuan makna, artinya pendidikan merupakan proses untuk tumbuhnya budaya manusia, dan secara nasional tumbuhnya nilai-nilai cinta Tanah Air dan bangsanya yang diwujudkan dalam paham kebangsaan.

Budaya berkebangsaan merupakan tuntutan kebutuhan manusia Indonesia yang tidak cukup hanya membangun dirinya, tetapi berkewajiban membangun bangsanya. Makna keduanya pada berujung kepada sinergi. Saya berpendapat pendidikan bagi anak pada dasarnya untuk membangun budaya manusia. Anak bukan prototype orang dewasa. Anak memiliki keunikannya sendiri. Mereka memperoleh pendidikan untuk menjadikan dirinya sendiri. Kesamaannya antar mereka adalah mereka memiliki budaya dasar yang sama.

Artinya antara mereka memiliki nilai-nilai yang oleh komunitasnya dingerteni, dirasa, dan dilakoni bersama. Oleh karena itu budaya mereka sama-sama dirasakan, dinikmati dan dijalankan bersama, dalam konteks kebersamaan berbangsa. Maka orang sering mengatakan masyarakat berada dalam kesatuan lautan budaya. Artinya, budaya menjadi media kehidupan bersama masyarakat berkebangsaan.

Saya rasa, pendidikan adalah alatnya dalam mengantarkan anak membangun budaya dan kebangsaannya. Oleh karena budaya itu selain dipahami juga dirasakan dan diterapkan dalam kehidupan berbangsa, dalam pendidikan itu mereka harus terlibat dalam memahami, dalam merasakan dan menerapkan dalam kehidupan keseharian.

Dengan demikian dibutuhkan pendidikan yang membangun kondisi yang berlangsung terus menerus secara partisipatif yang memungkinkan peserta didik dapat tumbuh dan berkembang budayanya.

Saya sependapat kalau ada yang mengatakan bahwa kelahiran suatu bangsa memiliki perbedaan sejarah masing-masing. Ada bangsa yang lahir dari masyarakat yang punya perbedaan asal, tapi punya kesamaan tujuan hidup bersama, berarti kebersamaan menjadi dasar membangun suatu bangsa. Masyarakat demikian punya ‘tuntunan’ untuk hidup bersama.

Wujudkan kembali

Saya kira memang berbeda dengan bangsa yang dibangun oleh kesamaan ikatan budaya, sehingga masyarakatnya punya ‘kewajiban’ untuk mewujudkan kehidupan bersama itu. Dalam kenyataannya tuntutan hidup memiliki dorongan lebih kuat dari pada kewajiban hidup bersama. Tuntutan hidup bersama menumbuhkan ‘motivasi’ kehendak yang lebih kuat dibandingkan dengan kewajiban untuk hidup bersama.

Dalam suatu negara yang belum memiliki bangsa, anggota masyarakatnya memiliki kemauan untuk mengatur hidup bersama mereka. Sehingga di antara anggota masyarakatnya memiliki toleransi tinggi terhadap niatan kebersamaannya. Sementara itu, pada negara yang masyarakatnya memiliki kewajiban membangun hidup bersama, masyarakatnya merasa harus memiliki beban tugas untuk membangun kesatuan masyarakatnya. Berarti ada perbedaan kualitas sifat kohensif hidup berbangsa di antara mereka, sehingga tidak sembarang pendidikan, potensial untuk membangun persatuan bangsa. Hal itu tergantung pada karakteristik corak masyarakat bangsanya.

Setiap jenis pendidikan untuk tujuan tertentu diperlukan filosofi masing-masing. Bila kita cermati aksi pendidikan kita, dapat dikatakan pendidikan kita tanpa filosofi, kecuali penyelenggaraan pendidikan sekadar pendidikan untuk meraih pekerjaaan. Konsep itu menegaskan bahwa pendidikan harus sesuai dengan lapangan kerja. Dapat dimaknakan bahwa pendidikan kita hanya untuk menghasilkan kuli. Bahkan sekarang ini pendidikan umum dikurangi dan membesarkan pendidikan kejuruan.

Apakah benar? Penyelenggaraan pendidikan ada persoalan lapangan kerja atau tidak, maka pendidikan harus diselenggarakan, untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Kita memerlukan bangsa yang punya perilaku kehidupan yang cerdas. Bagi ukuran Indonesia, bangsa yang masyarakatnya senang kepada disintegrasi, bangsa itu adalah bangsa yang tidak cerdas, yang seharusnya membangun bangsa menegakkan NKRI. Bangsa yang pendidikannya tidak lagi memihak rakyat adalah bangsa yang tidak cerdas, yang seharusnya pendidikan kita memihak rakyat. Bangsa yang pendidikannya hanya memikirkan intelektualitas adalah bangsa yang tidak cerdas, seharusnya pendidikan kita membangun manusia berbudaya, membangun masyarakat berperadaban yang dilandasi oleh moral yang kuat.

Padahal bila dikaji dengan seksama, menurut pendapat saya pendidikan kita saat ini masih cenderung berpihak pada paradigma yang pertama. Hal itu jelas menunjukkan bahwa kita berada dalam posisi mengembangkan pendidikan yang tidak mencerdaskan kehidupan bangsa…

Dalam konteks inilah, mungkin kita akan bertanya apa sebaiknya tindakan kita? Bila menghendaki pendidikan dan kebudayaan kita untuk mempererat kebangsaan, kita perlu mengambil langkah-langkah strategis, antara lain:

Pertama, pendidikan kita tidak hanya sampai pada menumbuhkan potensi intelektualitas.

Kedua, pendidikan kita harus memihak rakyat, ketiga, tidak hanya menghasilkan pekerja, tetapi membangun manusia yang memiliki kemerdekaan dan kemandirian, keempat, tidak hanya menghasilkan manusia yang tergantung, kelima, menghasilkan manusia berbudaya (manusiawi, bermoral, berperadaban, menghormati hak orang lain, berperilaku normatif).

Ke-enam, pendidikan kita seyogyanya menghasilkan manusia yang berjiwa kebangsaan (mencintai NKRI, mencintai Merah Putih, pengamal Bhineka Tunggal Ika, menghormati lagu kebangsaan kita).

Ketujuh, pendidikan kita harus memiliki filosofi untuk mewujudkan cita-cita bangsa, memiliki jati diri, memiliki kepribadian, dan pemerintah sebaiknya mengendalikan pendidikan kita secara nasional sesuai dengan arahan falsafat Pancasila dan UUD 1945. Referensi

About Mardoto

A Lecturer of IDAFA.

Discussion

Comments are closed.

%d bloggers like this: