//
you're reading...
News

Jadilah pemimpin yang melayani…

Kalau kita mendengar istilah pejabat, pasti yang terbayang dalam benak kita adalah seseorang berpakaian necis, bersepatu dan berdasi mahal, bermobil mewah juga segala kemewahan lainnya serta selalu dilayani apapun yang dimau.

Padahal, tidak seharusnya demikian seorang pemimpin berperilaku. Terlebih-lebih jika pemimpin itu yang menggaji rakyat, maka rakyat berhak mendapatkan pelayanan yang lebih baik.

Dengan demikian, seorang pemimpin harus memiliki orientasi untuk melayani dan bukan untuk dilayani bawahan atau rakyatnya (social service oriented).

Sebagaimana pesan Umar Bin Khattab; amirul qaumi khadimuhum atau sayyidul ummati khadimuha. Artinya, pemimpin suatu kaum adalah pelayan bagi kaumnya dan atau pemimpin suatu umat adalah pelayan bagi umatnya.

Tidak peduli pemimpin apapun itu, baik pemimpin pemerintahan ataupun perusahaan. Baik pemimpin formal maupun nonformal, semua harus berorientasi melayani, bukan dilayani. Apalagi bersikap angkuh dan tidak memperhatikan yang dipimpinnya.

Seorang pemimpin harus selalu mengedepankan sikap penuh pelayanan, sekalipun dalam suatu perkara yang sifatnya ritual, seperti halnya salat berjamaah.

Seorang imam harus mengerti siapa yang diimaminya. Apakah imamnya orang yang penuh kesibukan atau tidak. Jika penuh kesibukan, hendaknya ketika mengimami jangan membaca surat yang panjang.

Cara menjadi imam yang demikian kurang bijaksana. Hal ini mengingatkan kisah riwayat Muadz Bin Jabal, yang pada suatu ketika menjadi imam namun dikomplain oleh salah seorang makmumnya.

Pada saat Muadz bin Jabal masih awam, dia datang kepada Rasulullah untuk menimba ilmu. Setelah sekian lama menimba ilmu, Muadz kembali ke kampung halamannya. Karena merasa telah pandai dalam mengimami salat, Muadz pun mengimami salat dengan bacaan surat yang panjang.

Setelah salat jamaah usai, para makmum merasa kecewa dengan cara Muadz bin Jabal menjadi imam, karena pada rakaat pertama Muadz bin Jabal membaca Surah Al-Baqarah dan rakaat kedua membaca Surah Yasin.

Peristiwa itu membuat kecewa salah satu makmumnya, karena ketika dia salat dalam kondisi sedang menggembala kambingnya. Di dalam salat, makmum tersebut gundah dalam hatinya. “Jangan-jangan kambing saya diterkam srigala,” pikir si makmum.

Seusai salat, makmum tersebut komplain kepada Rasulullah. Ternyata Rasulullah tidak membela sang imam. Beliau menemui Muadz bin Jabal dan berkata kepadanya, “Afasyaarrun anta ya Muadz”, yang artinya “Apa kamu jadi tukang fitnah, wahai Muadz”.

Muadz bin Jabal telah membuat resah para makmumnya. Jamaah tidak hanya berisi orang yang membutuhkan bacaan panjang. Tidak semua jamaah memiliki kepentingan yang sama.

Makmum yang menjadi pedagang perlu segera berdagang. Yang terlalu tua, terlalu lelah untuk berlama-lama berdiri. Sementara yang bekerja ingin segera kembali ke pekerjaannya untuk menunaikan kewajibannya dan lain sebagainya.

Karena peristiwa inilah, Rasulullah menganjurkan kepada kita agar menjadi imam yang tidak membebani makmumnya. Memberikan keringanan bagi makmumnya. Kata Rasulullah, “Idza amma ahadukum falyukhaffif”. Artinya, “Jika di antara kalian menjadi seorang imam, maka ringankanlah”.

Bersikap meringankan (memberi keringanan) menunjukkan kepemimpinan yang ngemong, bijaksana dan berorientasi pada pelayanan kepada yang dipimpinnya. Wallahualam. SumberBerita

About Mardoto

A Lecturer of IDAFA.

Discussion

Comments are closed.

%d bloggers like this: