//
you're reading...
Idea

Memang harus brain gain, bukan brain drain. Tahukah saudara?

Mahasiswa Asal Indonesia Menangi The 39th St Gallen Symposium

Satu lagi penghargaan ditorehkan putra terbaik bangsa. Shofwan Al-Banna Choiruzzad, mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di Graduate School of International Relations, Ritsumeikan University, Jepang memenangkan The 39th St Gallen Symposium yang berlangsung di Swiss, 7–9 May 2009. St Gallen Symposium adalah acara tahunan yang dihadiri sejumlah pemimpin bisnis dan politik dari seluruh dunia untuk berdialog dengan para pemimpin muda. Dalam acara tersebut, para ratusan pemimpin muda diseleksi lewat karya tulis bertemakan krisis global, untuk kemudian diambil 3 terbaik dan dipersilakan menyampaikan gagasannya di hadapan forum dunia.

Shofwan, sapaan akrab anak muda kelahiran Juli ’85 ini, menjadi pemenang pertama dari tiga besar tersebut. Dengan karya tulis berjudul ‘Boundaries as Bridges: A Reflection for Transnational Business Actors’, ia mengungguli Jason George, mahasiswa program master dari Harvard University (peringkat 2) dan Aris Trantidis, mahasiswa program doktoral dari London School of Economics (peringkat 3). “Saya bersyukur dan (penghargaan ini) membuatku yakin bahwa kita semua bisa menciptakan Indonesia yang lebih baik di masa depan,” ujar Shofwan.

Menurutnya, kapasitas anak-anak Indonesia tidaklah kalah untuk bersaing dengan siswa asing di bidang pendidikan. Hanya saja, kata dia, sistem pendidikan di Indonesia belum bisa menyatukan potensi-potensi anak bangsa yang tersebar, yang jika disatukan bisa menjadi kekuatan besar. “Barangkali, selama ini kita hanya kurang baik manajemennya,” tutur pria yang gelar S1-nya didapat dari Hubungan Internasional, FISIP UI ini.

Di kota tua St Gallen itu, sejumlah 600 pemimpin bisnis dan politik dari seluruh dunia berkumpul untuk berdialog dengan 200 pemimpin muda mengenai krisis global hari ini. Dari kalangan politisi, daftar pembicaranya antara lain Presiden Swiss Hans-Rudolf Merz, Presiden Serbia Boris Tadic, Presiden Estonia Ilves, Kepala Japan Bank for International Cooperation Hiroshi Watanabe, Wakil Menteri Luar Negeri Jepang Hiroyuki Ishige, Menteri Perdangan dan Industri India Kamal Nath, sampai Menteri Keuangan Singapura Shanmugaratnam. Nama-nama besar juga ada di daftar pembicara dari kalangan bisnis. Mulai dari CEO PriceWaterHouseCoopers, CFO Airbus, wakil dewan direktur FIAT, direktur Hindustan Construction, sampai Pimpinan Dewan Direktur Embraer Brazil. Selain dari kalangan politik dan bisnis, tokoh dunia lain yang tampil di depan adalah para ilmuwan seperti Pemenang Nobel Robert Aumann, Presiden Organisasi Eropa untuk Riset Nuklir (CERN) Torsten Akesson dan juga jurnalis seperti Riz Khan dari Al Jazeera dan Peter Day dari BBC. Referensi

Pemenang The 39th St Gallen Symposium, Shofwan: Kita Harus Brain Gain, Bukan Brain Drain

Shofwan Al-Banna Choiruzzad, mahasiswa Indonesia yang memenangkan The 39th St Gallen Symposium, prihatin dengan sistem pendidikan Indonesia yang belum bisa mengoptimalkan potensi anak bangsa. Ia berharap pemerintah Indonesia ke depan bisa me-manage pendidikan dengan baik, sehingga anak bangsa tidak hanya menjadi ‘saluran’ tetapi menjadi ‘keuntungan’ bagi Indonesia. “Seperti Cina atau India yang secara sistematis mengoptimalkan orang-orang terbaiknya, sehingga bisa ‘Brain Gain’ bukan ‘Brain Drain’,” kata Shofwan.

Menurut Shofwan, yang kini mengambil program master di Graduate School of International Relations, Ritsumeikan University, Jepang ini, masalah yang terpenting bagi pendidikan Indonesia adalah visi ke depan. Dengan visi yang kuat, kata dia, kita punya petunjuk yang jelas ke mana tujuan pendidikan Indonesia akan dicapai. “Visi kita (masih) lemah untuk masa depan,” pungkasnya.

Pada The 39th St Gallen Symposium, yang berlangsung 7–9 May 2009 di Swiss, Shofwan menjadi pemenangan pertama dari tiga besar siswa yang layak tampil menyampaikan gagasannya di depan forum dunia. Dengan karya tulis berjudul ‘Boundaries as Bridges: A Reflection for Transnational Business Actors’, ia mengungguli Jason George, mahasiswa prorgam master dari Harvard University (peringkat 2) dan Aris Trantidis, mahasiswa program doktoral dari London School of Economics (peringkat 3). Di kota tua St Gallen itu, 600 pemimpin bisnis dan politik dari seluruh dunia berkumpul untuk berdialog dengan 200 pemimpin muda mengenai krisis global hari ini. Referensi

Jadi, memang betul harusnya brain gain, biar nggak terjadi brain drain. Apalagi “pelaku” brain drain yang sekolahnya sampai setinggi-tinggi itu dibiayai oleh negara, gimana ya rasanya, ternyata pengabdiannya ke negara lain. Pemerintah juga harus memperhatikan “generasi muda” kita yang cerdas-cerdas, jangan sekolahnya saja diperhatikan, lebih dari itu ya karirnya, serta timbal baliknya …. biar nggak “lepas” dari Indonesia, terus dirawat bangsa dan negara lain. Rugi deh kita ….

About Mardoto

A Lecturer of IDAFA.

Discussion

Comments are closed.

%d bloggers like this: