//
you're reading...
Idea

Lindungi SDM Indonesia…

Seorang mahasiswa muda Indonesia bernama David Hartanto Widjaja yang kuliah di Nanyang Technological University (NTU) di Singapura meninggal dunia di kampusnya. Muncul berbagai macam spekulasi pemberitaan, antara lain ada yang menyebutkan almarhum adalah pelaku penusukan seorang profesor di kampus tersebut.

Menurut Iwan Piliang, yang sekarang ditunjuk sebagai Ketua Tim Verifikasi Kasus David Hartanto Widjaja, seharusnya sumber daya manusia (SDM) juga dinilai sebagai aset harus dilindungi. Kita harus lebih menghargai sesuatu yang intangible yaitu sesuatu yang berkaitan dengan karya otak.

Berikut wawancara Faisol Riza dengan Iwan Piliang.
Bagaimana perkembangan yang sudah dicapai dari tim verifikasi dalam kasus kematian David Hartanto Widjaja?
Saya pribadi melihat belum banyak kemajuan karena kita belum mendapatkan saksi kunci dari kematian David Hartanto Widjaja hingga hari ini setelah persidangan First Mention Coroner Court. Pada 26 Mei 2009 akan dilangsungkan Coroner Inquiry. Pengadilan akan berlangsung pada sebuah ruang di gedung yang bernama Subordinate Court di Singapura.

Apakah sejauh ini belum ada saksi kunci?
Nah, yang menarik ketika saya hadir di situ, saya mendengar hakim Pieter Yeo mengatakan mereka akan menghadirkan paling tidak 16 saksi, antara lain termasuk Profesor Chan Kap Luk. Berdasarkan keterangan resmi dari Nanyang Technological University (NTU), pada 2 Maret Profesor Chan Kap Luk dinyatakan ditusuk David, kemudian David melukai nadinya, dan lompat bunuh diri.

Nah, Chan Kap Luk akan hadir pada 20 Mei sebagai salah satu saksi. Namun, kami dari tim verifikasi melihat ada penggalan di tempat kejadian peristiwa (TKP) yang sengaja ditutupi. Pertama, di ruang Chan Kap Luk. Lalu di tangga darurat ketika David lari, dan di jembatan saat ia melompat yang menurut versi mereka ada banyak saksi di situ.

Menurut versi mereka, David melompat dari jembatan kaca yang ada di lantai empat gedung tersebut dan ada satu orang yang mengambil videonya. Informasi terbaru yang kami peroleh rekamannya melalui hand-phone. Namun itu sebuah penggalan, dan penggalan di dua titik lainnya belum ketemu, sedang kami lengkapi saksi-saksi yang akan kita cari.

Ketika kami kembali dari Singapura yang pertama, saya mengatakan 99% David dibunuh. Tapi ketika kami dua kali ke Singapura, saya mengatakan David dibunuh. Saya tidak memakai presentase lagi.

Apa yang berkecamuk di kepala Anda sejauh ini dengan motif tadi?
Jadi kembali saya tegaskan kalau motif itu sangat sulit. Namun kita taat kaedah pada yang namanya bahan tertulis yang kita dapat. Riset David itu kira-kira kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia adalah bagaimana mengakuisisi data dari multi kamera, istilah dia bisa dilihat multi-view, untuk bagaimana kemampuan tiga dimensi display dan dipakai untuk kepentingan surveillance, pengintaian. Nah judulnya saja sudah seperti itu.

Menurut Ary Setijadi, Doktor di bidang itu yang belajar di Linch, Austria dan baru membuka jurusan yang sama dua tahun lalu di ITB, ada dua muara untuk judul penelitian tersebut yaitu entertainment dan militer. Saya tidak mengatakan langsung ke militer, tapi kita bisa meraba ke mana arah barang ini.

Apalagi President NTU Su Guaning pernah menjadi Chairman dari Defense Security Technology Agen (DSTA). Sedangkan Chan Kap Luk, Ketua Jurusan yang dilaporkan dilukai David di ruangannya, menempuh studi yang sama mengenai Open CV. Su Guaning belajar Open CV di Kanada, sedangkan Chan Kap Luk belajarnya di Inggris.

Apa yang ingin Anda sampaikan terutama pada masyarakat Indonesia dan juga mahasiswa Indonesia yang ada di Singapura terutama dalam kasus ini?
Kepada teman-teman mahasiswa Indonesia di NTU yang ada sekitar 600 orang, saya ingin mengetuk pintu hatinya. Kalau memang mengetahui sesuatu maka bicara apa adanya karena KBRI di Singapura juga mengatakan menjamin keamanan kalau kalian mau bersuara. Jadi jangan takut menyampaikan sebuah kebenaran.

Ini harapan saya kepada teman-teman di sana. Kedua, mungkin ke pemerintah. Sekarang kita bukan hanya kebudayaan saja yang mundur tapi peradaban sudah di telapak kaki. Saya mengatakan demikian karena sisi – sisi yang intangible asset itu terus kita rendahkan seperti sesuatu yang berkaitan hati dan karya otak tidak diberi nilai.

Dia pernah membawa nama baik bangsa ikut sebagai Tim Indonesia untuk Olimpiade Matematika di Meksiko 2005. Namun, kemudian diambil Singapura dengan diberikan beasiswa karena kecemerlangan otaknya, lalu ia membuahi sebuah riset yang kemungkinan menghasilkan sesuatu. Kita juga diam ketika David yang pintar tapi kemudian disosialisasikan oleh kampusnya sebagai seorang yang brutal karena sisi intangible itu tidak pernah kita anggap aset.

Apakah pemerintah seharusnya berbuat lebih jauh dari sekadar mengirimkan anggota tim?
Saya rasa demikian bahkan saya selalu mengetuk pintu hati presiden kita. Mengapa sekarang diam, apa karena sibuk Pemilu, Pilpres, dan lain-lain? Betapa naifnya, triliunan rupiah kita kucurkan ke Pemilu, tapi begitu bicara sisi intangible tidak diperhatikan. Lihat, saya sesak napas untuk berangkat ke Singapura. Untung ada pembaca saya yang membantu dan saya harus berhemat dan lain-lain. Jadi saya mengatakan ini sebuah perbuatan yang tidak ada arti apa-apa tapi lebih kepada keterlukaan hati. Kita merasa sakit sebagai bangsa.

Kalau kita jor-joran untuk sisi non intangible atau kita mendewakannya terus, saya anggap kita kiamat. Kalau kita commit bahwa sisi intangible lebih tinggi dari yang tangible, maka kita baru bisa menghargai anak-anak brilliant bahwa itu juga aset sama seperti aset berupa mining dan coal.

Bagaimana kira–kira prasarana atau sarana yang harus disediakan pemerintah dalam melindungi mereka untuk masa depan?
Agak berat juga menjawabnya. Kembali ke kalimat saya tadi, seharusnya SDM juga aset. Kita jangan melihat SDA saja sebagai aset tapi SDM juga. Negara-negara kecil seperti Singapura andalannya SDM. Dengan adanya anggaran pendidikan 20%, lalu ada bantuan langsung tunai (BLT), saya rasa orang-orang pintar yang mau berbuat harus difasilitasi. ITB tidak kalah dengan NTU.

Saya sudah menjelajah ke 200 hektar luas Kampus NTU dan memang bangunannya bagus-bagus, tapi ITB dari segi know how tidak kalah. Yang kita kalah adalah sustainability dari riset. Siapa yang membiayai untuk bisa berbuat? Kita tidak ada duit. Saya punya ide, punya konsep, dan kebetulan juga pernah di industri kreatif tapi mati di tengah jalan.

Kita tidak memiliki venture capital real. Di NTU tidak terjadi hal itu. Anda mau berbuat, ada saja dananya, bahkan lembaga riset LIEN dari China merupakan yang terbesar di situ. Jadi praktis kalau kita mau berbuat, mau riset, mau berkembang maka duit bukan masalah, tapi di sini itu masalah. Nah, sampai kapan negara mau terus membuang aset-aset hebat ini menjadi braindrain ke luar negeri? Referensi

About Mardoto

A Lecturer of IDAFA.

Discussion

Comments are closed.

%d bloggers like this: